REINKARNASI PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA DALAM PARADIGMA BARU PENDIDIKAN INDONESIA

REINKARNASI PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA DALAM PARADIGMA BARU PENDIDIKAN INDONESIA

 

 

REINKARNASI PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA

DALAM PARADIGMA BARU PENDIDIKAN INDONESIA

(Refleksi Hari Pendidikan Nasional Tahun 2022)

Oleh; Ibnu Mas’ud, S.E,Sy

 

Pendidikaadalatempapersemaian benihbenih kebudayaan

dalam masyarakat ( Ki Hadjar Dewantara )

 

Setiap tanggal 2 Mei kita selalu memperingati dan merayakan hari pendidikan nasional (HARDIKNAS) dengan penuh gegap gempita melalui berbagai macam dan bentuk kegiatan. Pertanyaan pemantik buat kita adalah kenapa kita merayakan hari pendidikan nasional pada tiap tanggal dan bulan tersebut? Hal ini karena pemerintah telah menetapkan tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional yang diambil dari hari kelahiran dari sosok Ki Hadjar Dewantara (nama asli Soewardi Surjaningrat) yaitu tepatnya tanggal 2 Mei 1889. Pertanyaan berikutnya adalah kenapa hari lahirnya ditentukan sebagai hari pendidikan nasional, apakah peran-perannya dalam dunia pendidikan Indonesia?

Ki Hadjar Dewantara adalah salah satu dari sejumlah pejuang perintis kemerdekaan Indonesia pada masa penjajahan Belanda dan Jepang dengan melalui berbagai medan perjuangan secara langsung maupun tidak langsung baik politik, jurnalistik dan pendidikan. Ki Hadjar Dewantara bergabung dalam berbagai organisasi politik antara lain Budi Utomo, Sarekat Islam dan pada tahun 1912 bersama Daus Beckher mendirikan Indische Partij yang bertujuan berjuang mencapai Indonesia merdeka. Pada tahun 1922 mendirikan sebuah Perguruan Taman Siswa yang merupakan embrio dari sistem pendidikan Indonesia. Tujuan berdirinya perguruan taman siswa antara lain adalah upaya untuk menangkal berbagai pengaruh arah pendidikan kaum penjajah serta mencerdaskan generasi muda atau masyarakat Indonesia agar sadar akan hak-hak hidupnya serta dalam pendidikan dan pengajarannya mengedepankan kekhasan nilai-nilai luhur khas bangsa Indonesia.

Buah-buah pikiran Ki Hajdar Dewantara mengenai konsep dan praktik pendidikan cukup terkenal dan malah mendunia dan telah dituangkannya dalam berbagai bentuk baik berupa buku dan tulisan-tulisan di media massa dan cetak serta aktif didiskusikan dalam berbagai forum rapat, sidang dan seminar baik pada saat perjungan kemerdekaan maupun setelah Indonesia merdeka saat ini. Slogannya yang paling terkenal adalah Ingarso Sung tulada , Ing Madya Mangun karsa, Tut Wuri Handayani. Sloga ini telah menjadi panduan bagi pamong atau guru dalam memposisikan dirinya sebagai pendidik yang dapat memberi teladan, memberi semangat, memberdayakan dan memberikan dorongan kepada murid. Oleh karena berbagai perannya tersebut maka Ki Hadjar Dewantara dinobatkan sebagai sebagai bapak pendidikan Indonesia.

Sejauh manakah pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara kita terapkan dalam konsep dan praktik pendidikan Indonesia selama iniJujur kita menyatakan bahwa dunia pendidikan Indonesia belum sepenuhnya menerapkan pokok-pokok pikiran Ki Hadjar Dewantara baik dalam konsep dan praktik pendidikan kita selama ini. Peringatan hari pendidikan nasional yang dilaksanakan setiap tanggal 2 Mei setiap tahunnya belum menjadi momentum kebangkitan kembali pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Semestinya momentum tersebut harus dijadikan titik tolak untuk kita menghidupkan kembali pemikiran-pemikirannya Ki Hadjar Dewantara. Sungguh sangat aneh, ketika banyak bangsa lain sangat mengagumi dan menerapkan pemikiran-pemikirannya dalam pendidikan mereka seperti halnya negara Findlandia dan mereka cukup berhasil dalam pendidikannya, tetapi malah sebaliknya Indonesia yang menjadi tempat lahir dari tokoh pendidikan yang mendunia tersebut tidak menerapkan seutuhnya konsep dan pemikiran-pemikirannya.

Dengan momentum peringatan hari pendidikan nasional tanggal 2 Mei tahun 2022 ini kita sangat berharap hendaknya menjadi momentum bagi kita semua untuk melakukan refleksi diri tentang sejauh mana konsep pendidikan kita selama ini berdampak signifikan bagi kecerdasan kehidupan berbangsaMomentum tersebut juga sekaligus dapat membangkitkan jiwa patriotisme dan nasionalisme menghidupkan kembali asa dengan penuh optimisme bahwa dengan kurikulum baru yang diberi nama kurikulum merdeka ini kita dapat dengan penuh kemerdekaan untuk bebas dari belenggu pemikiran barat dalam pendidikan kita dan menghidupkan kembali (reinkarnasi) pemikiran KI Hadjar Dewantara dalam ruang-ruang perjumpaan kita dengan murid kita. Hal ini sejalan dengan tema hari pendidikan nasional tahun 2022; “ Pimpin Pemulihan, Bergerak Untuk Merdeka Belajar”.

Konsep pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara adalah pendidikan yang holistik, dimana murid atau peserta didik dibentuk menjadi insan yang berkembang secara utuh meliputi olah rasio, olah rasa, olah jiwa dan olah raga melalui proses pembelajaran dan lainnya yang berpusat pada murid dan dilaksanakan dalam suasana penuh keterbukaan, kebebasan, serta menyenangkan. Hal ini seiring dengan empat pilar pendidikan menurut UNESCO yaitu learning to know, learning to do, learning to be, and learning to live together.

Dua pilar pertama telah dipraktekan pada sistem pendidikan kita yaitu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan, tetapi itu terasa tidak cukup karena kita mengharapkan manusia Indonesia yang tidak hanya memiliki kecerdasan, tetapi juga harus berkarakter. Manusia Indonesia dituntut juga harus memahami jati dirinya sebagai manusia yang memiliki dimensi individu dan sosial, memiliki akal budi, kehendak bebas, dan hati nurani. Learning to be menghendaki para murid untuk menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur, sedangkan learning to live together mengarahkan murid untuk memiliki kesadaran untuk dapat hidup bersama dengan manusia yang lain ditengah pluralitas dan heterogenitas. Sehingga yang menjadi tujuan pendidikan yang holistik adalah membentuk pribadi utuh yang memiliki kecerdasan intelektual, emosional, sosial, moral, spritual yang disebut melek moral dan sosial (social and moral literacy).

Menurut Ki Hadjar Dewantara (KHD) bahwa pendidikan dan pengajaran memiliki arti yang berbeda. Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa Pendidikan (opvoeding) adalah membertuntunaterhadasegala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar imampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi– tingginybaisebagaseorang manusimaupun sebagaanggota masyarakat. Sedangkan Pengajaran merupakan proses Pendidikadalam memberi ilmatau berfaedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sehingga pendidikan dapengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaydalam arti yang seluas– luasnya.

Ki Hadjar Dewantara juga menjelaskan bahwa Pendidikaadalatempapersemaian benihbenih kebudayaan dalam masyarakat dan meyakini bahwa untuk menciptakan manusiIndonesiyang beradab maka pendidikan menjadsalah satu kunci utama untuk mencapainya. Pendidikan dapat menjadi ruang berlatih dan bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atadiwariskan kepada generasi berikutnya . Oleh karena itu untuk menghasilkan manusia yang berbudaya maka pendidikan tidak boleh terserabut dari akar budaya kearifan lokal yang menjadi identitas kita sebagai warga bangsa. Maka sudah merupakan sesuatu yang tepat dan penting apabila program pendidikan sekarang ini yang menitik beratkan pada bagaimana supaya generasi muda bangsa ini disamping memiliki kompetensi intelektual tetapi juga memiliki kompetensi sikap atau karakter yang sejalan dengan nilai-nilai agama dan budaya yang telah mengkristal di dalam nilai-nilai pancasila sebagai dasar negara kita yang telah menjadi pandangan hidup bagi setiap warga bangsa Indonesia.

Dalam membentuk karakter murid yang berbudaya sesuai dengan nilai-nilai pancasila maka kita kenal sekarang dengan profil pelajar pancasila. Profil pelajar pancasila adalah profil lulusan yang bertujuan menunjukkan karakter dan kompetensi yang diharapkan diraih dan menguatkan nilai-nilai luhur peserta didik dan pemangku kepentingan. Ada enam dimensi dari profil pancasila yaitu; beriman kepada tuhan Yang Maha esa, dan berakhlak mulia, bekebhinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis dan kreatif. Rumusan profil pelajar pancasila dibuat dengan tujuan sebagai kompas bagi pendidik dan pelajar Indonesia, sehingga segala pembelajaran, program dan kegiatan di satuan pendidikan bertujuan akhir menghasilkan murid dengan karakter dengan profil pancasila. Hal ini juga sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang berbunyi; pendidikan diselenggarakan agar setiap individu dapat menjadi manusia yang “beriman dan bertaqwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Ki Hadjar Dewantara juga mengatakan bahwa hendaknya pendidik atau guru untuk tetap terbuka atau melakukan berbagai pembaharuan tetapi tetap harus waspada terhadap perubahan yang terjadi. Kita boleh meniru atau mengadopsi sesuatu yang datang dari luar tetapi kita harus mempertimbangkan bahwa Indonesiajuga memiliki potensi-potensi kultural yang dapat dijadikan sebagi sumber belajar. Hal ini juga sejalan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang mengelaborasi pendidikan terkait kudrat alam dan kudrat jaman. Kita diberi kebebasan utnuk melakukan pembaharauan yang disesuaikan dengan kepentingan atau kebutuhan murid sesuai dengan kudrat alam dan kudrat jaman tetapi jangan sampai meninggalkan nilai-nilai kearifan lokal yang sesuai dengan dasar atau asas kebangsaan yang tidak bertentangan dengan sifat-sifat kemanusiaan.

Dalam konteks pendidikan Indonesia saat ini terdapat konsep merdeka belajar yang telah dicanangkan oleh mas menteri pendidikan Nadiem Anwar Makariem yang dilanjutkan dengan diterapkannya kurikulum merdeka. Apa itu merdeka belajar? Merdeka belajar adalah belajar yang diatur sendiri oleh pelajar, pelajar yang menentukan tujuan, cara dan penilaian belajarnya. Dari sudut pandang pengajar atau guru merdeka belajar berarti belajar yang melibatkan murid dalam penentuan tujuan, memberi pilihan cara, dan melakukan refleksi terhadap proses dan hasil belajar. Kenapa merdeka belajar? Dengan merdeka belajar murid akan lebih mandiri mengerjakan tugas belajar, tahan menghadapi kesulitan, serta adaftif menghadapi perubahan.

Konsep ini seiring dan sejalan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang adpadanakanak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggitingginybaik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu, pendidik itu hanydapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anakanakDalamenuntun laku dapertumbuhakodraanak, peran pendidik seperti seorang petani atau tukang kebun. Anak-anak itu seperti biji tumbuhan yang disemadaditanam oleh pak tani di lahan yang teladisediakan. Dengan demikian bahwa peran pendidik atau guru adalah menuntun murid agar dapat mengembangkan potensi kodrat yang mereka miliki, murid hendaknya diberi kebebasan atau kemerdekaan untuk memilih cara mana yang mereka sukai untuk mengembangkan potensi kudratinya. Disamping itu juga mengandung makna bahwa seorang guru diberi kebebasan untuk menuntun muridnya dengan berbagai metode atau cara yang tentunya sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan murid.

Seiring dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara tersebut maka dalam paradigma baru pembelajaran saat ini dikembangkanlah pembelajaran yang berpusat pada murid (student center) bukan lagi berpusat pada guru (ticher centerdimana murid harus dijadikan sebagai subyek atau pembelajar. Kegiatan pembelajaran tidak lagi menjadikan guru sebagai satu-satunya sumber belajar atau kegiatan pembelajaran tidak lagi hanya aktivitas memindahkan pengetahuan guru kepada murid, tetapi jauh dari itu yaitu murid harus terlibat aktif menjadi pembelajar, membangun pengetahuan sendiri dengan bantuan dari guru dan berbagai sumber belajar lainnya sehingga pengetahuan atau pengalaman belajar yang diperoleh menjadi sangat bermakna.

Hal ini sejalan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara dalam buku “Pusara” (1940) menyatakan; “Jangan menyeragamkan hal-hal yang tidak perlu atau tidak bisa diseragamkan, perbedaan bakat dan keadaan hidup anak dan masyarakat yang satu dengan yang lain harus menjadi perhatian dan diakomodasi”. Demikian juga dengan pemikirannya yang lain “anak-anak tumbuh tumbuh berdasarkan kekuatan kodratinya yang unik, tak mungkin pendidik ‘mengubah padi menjadi jagung’ atau sebaliknya”. Hal ini menunjukkan bahwa dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran kita harus menyesuaikannya dengan kemampuan, bakat dan minat murid atau kebutuhan murid.

Agar kegiatan pembelajaran dapat berlangsung sesuai dengan apa yang menjadi kebutuhan dan berpusat pada murid maka perlu menerapkan pembelajaran yang berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Oleh karena itu untuk dapat melaksanakan pembelajaran yang berdiferensiasi guru harus melakukan pemetaan atau identifikasi terlebih dahulu terhadap tiga aspek kebutuhan belajar murid yaitu; kesiapan belajar murid, minat belajar murid, dan profil belajar murid. Apabila ini sudah dilakukan maka selanjutnya adalah melakukan kegiatan belajar mengajar yang berdiferensiasi dengan menyiapkan variasi pendekatan pembelajaran ditengah keberagaman karaktersitik murid yang ada. Hal ini menuntut kreatifitas atau inovasi dari guru untuk melakukannya.

Ada tiga strategi diferensiasi yang harus dilakukan yaitu; diferensiasi konten yaitu menentukan apa yang akan kita ajarkan pada murid-murid yang disesuaikan dengan kesiapan belajar, minat dan profil belajar murid, diferensiasi proses yaitu; bagaimana murid akan memahami atau memaknai apa informasi atau materi yang dipelajari, apakah siswa belajar mandiri atau berkelompok, bagaimana memenuhi kebutuhan murid, caranya seperti apa, prosesnya seperti apa, seberapa banyak bantuan yang diberikan, siapa saja yang memerlukan bantuan, sedangkan diferensiasi produk adalah; tentang tagihan apa yang kita harapkan dari murid, memberikan tantangan, memberikan pilihan kepada murid, memberikan kesempatan untuk berekpresi dan berkepketasi.

Pembelajaran yang berdiferensiasi harus dibangun dengan yang disebut learning community (komunitas belajar) yaitu komunitas yang semua anggotanya adalah pembelajar dan guru akan memimpin murid-muridnya untuk mengembangkan sikap atau praktik yang mendukung tumbuhnya lingkungan belajar yang berdiferensiasi. Ada beberapa faktor yang menjadi karakteristik atau ciri lingkungan belajar yang berdiferensiasi yaitu; setiap orang di kelas saling menghargai, setiap orang akan dihargai, murid merasa aman, ada harapan bagi pertumbuhan, guru mengajar untuk mencapai kesuksesan, ada keadilan dalam bentuk nyata, serta guru dan siswa berkolaborasi untuk pertumbuhan dan kesuksesan bersama.

Dengan menerapkan pembelajaran yang berpusat pada murid (student center) dengan melalui pembelajaran yang berdiferensiasi maka akan terbentuk kepemimpinan pada murid (student leadership) dimana murid menjadi bertanggung jawab, dan menjalankan perannya sebagai murid yang dapat mengembangkan segala potensi yang dimilikinya agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan baik untuk dirinya maupun masyarakat di sekitarnya. Sedangkan pada sisi pendidik, guru akan menjadi sosok pemimpin pembelajaran yang dapat mendorong wellbeing ekosistem pendidikan di sekolah yang selalu berpusat dan berpihak pada kebutuhan murid. Akhirul kalam selamat hari pendidikan nasional tahun 2022, guru mulia karena karya, mari sama-sama tergerak, bergerak, menggerakkan untuk pendidikan yang lebih baik. Terimakasih.

Ibn_Red